Review Film : Minari (2020)

Dunia perfilman Korea Selatan kembali dihebohkan dengan rilisya film Minari karya sutradara Lee Isaac Chung. Film ini digadang-gadang menjadi suksesor Parasite yang juga memenangkan penghargaan Best Picture pada penghargaan Oscar tahun 2020 lalu. Tak tanggung-tanggung, film ini mendapat enam nominasi Oscar 2021 termasuk nominasi Best Picture dan Best Director untuk sang sutradara. Namun sayangnya mereka hanya berhasil membawa pulang piala Oscar 2021 dari nominasi Best Performance by an Actress in a Supporting Role untuk Youn Yuh-Jung. Jika Anda tertarik untuk menontonnya, mari kita sedikit review film Minari yang rilis pada 26 Januari 2020 dalam Sundance Film Festival.

Sebelum menginjak ke sinopsis film, ada sedikit informasi yang mungkin belum Anda ketahui. Istilah Minari sebenarnya diambil dari nama tanaman Asia yang daunnya mirip seperti peterseli dengan rasa sedikit pedas. Tanaman ini dikenal sebagai tanaman yang tahan banting dan bisa tumbuh dimana saja. Oleh karena itu, sang sutradara mengumpamakan kehidupan pada film ini seperti tumbuhan Minari.

Review Film : Minari (2020)

Sinopsis

Mengambil latar tahun 1980-an, film Minari mengisahkan sebuah keluarga Korea Selatan yang bermigrasi ke Negeri Paman Sam, Amerika Serikat. Mereka hidup di sebuah desa bernama Arkansas. Keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan dua anak ini bermaksud dan berharap mendapatkan kehidupan yang lebih baik jika tinggal di Amerika. Namun ternyata mereka kesulitan beradaptasi dan belum benar-benar merasa menjadi bagian dari negara tersebut.

Saat pertama datang ke Amerika, sang ayah, Jacob Yi (Steven Yeun) berencana untuk berkebun dengan modal pengetahuan yang dia dapatkan di Korea. Namun, dia menghadapi kendala besar karena ternyata dirinya kesulitan mencari sumber air. Jacob dan Monica (Yeri Han) merupakan pasangan yang mempunyai karakter berbeda. Jacob memiliki sifat yang ambisius, sedangkan Monica mempunyai sifat yang skeptis. Jalan yang mereka hadapi di Arkansas tidaklah mulus. Menanam dan menjual buah-buahan serta sayur-sayuran Korea di atas lahan seluas 50 hektar, adalah perkara yang sulit. Namun, Jacob tidak menyerah meski harus berhadapan dengan berbagai kendala.

Keluarga ini harus hidup dalam “rumah mobil” yang jauh dari kata menarik di daerah terpencil. Karena Monica merasa kesepian, akhirnya ia mendatangkan ibunya yang bernama Soonja (Youn Yuh-Jung) dari Korea. Kehadiran sang nenek yang periang ini bisa mencairkan suasana terutama hubungannya dengan sang cucu Anne (Noel Cho), dan David (Alan S. Kim). Dari semua usahanya, Jacob hanya ingin mencapai American Dream, sukses kaya raya dengan usahanya sendiri. Begitu pula dengan Monica yang juga memiliki American Dream, namun dia lebih realistis dari Jacob. Dia hanya ingin masa depan anak-anaknya lebih baik. Anne dapat pendidikan yang baik dan David yang sembuh dari penyakit jantungnya.

Review

Sejumlah review menyebutkan bahwa film Minari yang dirilis tahun 2020 ini mendefinisikan arti keluarga yang sebenarnya dan arti saling memiliki satu sama lain. Seperti film Korea pada umumnya, dalam film ini tidak ada karakter protagonis maupun antagonis yang nyata terlihat. Semua tokoh dalam film ini memiliki sisi baik dan buruk, dan bercampur baur seperti selayaknya kehidupan manusia normal di dunia nyata. Meski ceritanya dibuat sedekat mungkin dengan kondisi masyarakat di dunia nyata, Minari tak kehilangan sentuhan sinematik Korea yang memang jago menampilkan sinematografi apik memanjakan mata.

Selama 115 menit, kita akan dihidangkan pada konflik yang tenang sekaligus indah. Konflik yang terjadi pun ada pada internal keluarga Jacob. Perdebatan soal uang tabungan yang habis ketika mengejar mimpi di tanah rantau, bisa relate dengan dunia nyata. Belum lagi ditambah sang anak yang memiliki sakit parah, nenek yang kesulitan beradaptasi, perlakuan berbeda dari warga sekitar, dan sebagainya. Kisah sederhana ini sangatlah khas dengan Korea dan Asia yaitu menjual drama keluarga tanpa embel-embel cerita yang berlebihan.

Film Minari ini juga menampilkan visual yang indah. Diselingi dengan longshot lanskap hijau dengan sinar matahari dan kupu-kupu yang beterbangan pada siang hari serta kunang-kunang pada senja hari. Benar-benar menghangatkan hati. Sang sutradara juga banyak mengisi Minari dengan detail yang apik. Misalnya kesenangan nenek dalam bermain kartu dan menonton gulat di TV atau anak-anak yang menulis “Jangan berkelahi” di atas pesawat kertas saat orangtua mereka memperingatkannya. Dengan genre drama dan komedi yang pas, film ini sangat cocok untuk di tonton dan dijadikan bahan diskusi.

Post Your Thoughts

Related Posts
The White Tiger (2021) : Kisah Kewirausahaan dalam Satir yang Kelam

The White Tiger (2021) : Kisah Kewirausahaan dalam Satir yang Kelam

Beberapa film yang diangkat dari kisah kesenjangan sosial memang sedang menjadi sebuah hal yang menarik.…

Rekomendasi Film Buat Pencari Inspirasi di Awal 2021

Rekomendasi Film Buat Pencari Inspirasi di Awal 2021

Wow, kita sudah melewati tahun 2020 loh, itu artinya kita sudah memasuki tahun yang baru…

Review Film: Pieces of a Woman (2021)

Review Film: Pieces of a Woman (2021)

Awal tahun 2021 lalu, layanan streaming Netflix merilis film terbarunya yang berjudul Pieces of a…

Close

Whatsapp Chat

Would you like to see our space before joining? Come and visit our coworking space. Please fill out the form and our manager will get back asap.