Di awal tahun biasanya seseorang membuat resolusi yang umumnya akan menetapkan tujuan-tujuan yang ingin dicapai. Khusus untuk resolusi keuangan, biasanya tujuan tersebut dapat berupa membeli kendaraan, membeli rumah, atau terbebas dari utang. Sayangnya, tak jarang hal tersebut hanya bertahan dalam beberapa bulan pertama serta kerap menjadi angan-angan semata. Namun, di akhir tahun selalu kecewa karena tidak ada satupun yang tercapai.
Resolusi adalah target yang dibuat untuk jangka pendek yakni untuk 1 tahunan, berbeda dengan planning (perencanaan) yang biasanya bersifat jangka panjang. Oleh karenanya, dalam membuat resolusi perlu adanya goal dengan indikator yang tepat untuk keuangan selama satu tahun ke depan. Tetap realistis tapi tetap mengarah pada kehidupan finansial yang lebih sejahtera. Apabila memiliki resolusi yang berkaitan dengan finansial saatnya harus untuk mulai lebih serius. Memiliki kebiasaan mengatur keuangan yang baik merupakan langkah awal untuk mencapai resolusi keuangan.
Nah, bila kamu termasuk orang yang cukup bersemangat menyusun resolusi keuangan pada awal tahun, ada baiknya kamu perlu mengetahui hal apa saja yang membuat target keuangan yang sering gagal dan cara mengatasinya. Dengan begitu, Kamu bisa mengantisipasi supaya resolusi yang disusun tersebut bisa tercapai dengan baik.
Hampir setiap orang memiliki harapan untuk bisa menyisihkan uang. Namun, banyak orang tidak tahu bagaimana cara menyisihkan penghasilan dan kemana harus menyimpannya. Sulit menabung bisa dihindari yakni kamu harus benar-benar mewujudkan dan menetapkan jumlah penghasilan yang disisihkan per bulan untuk ditabung. Di awal bulan, kamu bisa mulai dengan memotong 15% penghasilanmu untuk ditabung. Resolusi untuk bisa menabung lebih banyak akan terwujud jika dilakukan secara konsisten.
Terbiasa boros juga sering masuk dalam daftar penyebab kegagalan resolusi keuangan. Kebiasaan berbelanja haruslah dilakukan dengan menerapkan sejumlah aturan yang ketat untuk mencegah kebobolan pada pos pengeluaran. Jika tidak dilakukan dengan baik, maka akan berpotensi menimbulkan sejumlah pemborosan di dalam anggaran keuangan. Dimana kita mengeluarkan sejumlah dana untuk membeli berbagai hal yang sebetulnya tidak begitu kita butuhkan. Namun, hal ini bisa diatasi dengan cara kamu harus menentukan berapa nominal yang harus dipangkas dan pilih pos pengeluaran mana saja yang harus dipotong.
Mungkin sebagian orang akan beranggapan bahwa berinvestasi hanya bisa dilakukan oleh orang berduit, sehingga banyak orang yang enggan berinvestasi. Padahal, pandangan tersebut salah besar karena investasi tidak semata-mata melalui properti, atau instrumen mahal lainnya. Banyak instrumen investasi yang tidak membutuhkan modal besar, seperti reksadana. Dalam berinvestasi, imbal tinggi berbanding lurus dengan risiko yang tinggi. Maka tentukan terlebih dahulu tujuan investasimu. Dengan begitu, kamu perlu memiliki modal pengetahuan investasi dan pengalaman agar resolusi keuanganmu tetap tercapai walau berinvestasi.
Tiap orang pasti memiliki pengeluaran yang berbeda-beda sehingga harus paham berapa pengeluaran yang dihabiskan agar bisa dihitung untuk waktu yang akan datang. Namun, masih banyak yang tidak mencatat pengeluarannya. Padahal, dengan mencatat pengeluaran akan lebih mudah mengendalikan arus kas ke depannya. Dengan begitu, pengeluaran akan tetap seimbang dengan pemasukan yang didapatkan.
Komitmen atau berjanji dengan diri sendiri dan orang lain harus kuat apalagi dalam urusan keuangan. Kurangnya komitmen seperti berjanji hidup hemat akan membuat resolusi keuangan tidak berjalan baik. Hal ini pun berpengaruh pada pendapatan dan pengeluaran yang tidak seimbang karena pengeluaran banyak digunakan untuk hal yang melanggar komitmen.